orang yang jenius itu adalah orang yang ingin mencari tahu sampai tuntas dan jujur terhadap diri sendiri dan orang lain
Sabtu, 28 September 2013
Transpirasi
Makalah
Fisiologi tumbuhan
DISUSUN
OLEH :
Nama : Khairil Hadi
Nim : 8136174019
p. STUDI : bIOLOGI
Kelas : B2
Program pascasarjana Unimed
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan salah satu faktor penentu bagi keberlangsungan kehidupan tumbuhan. Banyaknya air yang ada didalam tubuh tumbuhan selalu mengalami fluktuasi tergantung pada kecepatan proses masuknya air ke dalam tubuh tumbuhan, kecepatan proses penggunaan air oleh tumbuhan, dan kecepatan proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan. Hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berupa cairan dan uap atau gas. Proses keluarnya atau hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berbentuk uap atau gas ke udara di sekitar tubuh tumbuhan dinamakan transpirasi.
Transpirasi terjadi pada tumbuhan dan memegang peranan penting dalam proses metabolisme serta memberikan manfaat bagi tumbuhan. Transpirasi berlangsung melalui bagian tumbuhan yang berhubungan dengan udara luar, yaitu jaringan epidermis pada daun, batang, cabang, ranting, bunga, buah, dan bahkan akar. Sebenarnya seluruh bagian tanaman itu mengadakan transpirasi, akan tetapi biasanya yang dibicarakan adalah hanya transpirasi yang melalui daun, karena hilangnya molekul-molekul air dari tubuh tanaman itu sebagian besar adalah lewat daun. Hal ini disebabkan karena luasnya permukaan daun, dan juga karena daun-daun itu lebih terkena udara dibandingkan dengan bagian tanaman yang lain (Dwidjoseputro, 1994).
Proses transpirasi selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga dapat mendinginkan tanaman yang terus menerus berada di bawah sinar matahari. Mereka tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari karena melalui proses transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar keberlangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin.
Transpirasi berhubungan langsung dengan intensitas cahaya. Semakin besar intensitas cahaya semakin tinggi laju transpirasi. Faktor-faktor lingkungan lainnya yang berpengaruh terhadap transpirasi antara lain: konsentrasi CO2, temperatur, kelembaban relatif, kepadatan udara, dan kecepatan angin. Sedangkan faktor tanaman yang mempengaruhi laju transpirasi adalah jumlah daun dan stomata.
Seperti halnya pada semua organisme, tumbuhan memiliki atau mengembangkan alat khusus untuk melakukan pertukaran zat. Alat ini dapat berupa unit organela sel tertentu, sel tertentu yang mengalami modifikasi, jaringan tertentu yang terspesialisasi mendukung fungsi pengeluaran zat atau bahkan merupakan organisasi tingkat organ. Daun merupakan organ paling penting untuk pertukaran gas, karna daun memiliki jumlah stomata banyak dibanding organ yang lainnya. Alat-alat pertukaran zat yang penting pada tumbuhan terutama adalah stomata.
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian maka dapat diambil rumusan masalahnya sebagai berikut:
1. Apakah defenisi dari Transpirasi ?
2. Apa-apa sajakah tipe dari Transpirasi ?
3. Bagaimanakah alur dari Transpirasi ?
4. Bagaimanakah proses membuka dan menutupnya Stomata ?
5. Bagaimanakah Mekanisme Transpirasi melalui Daun?
6. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi Transpirasi ?
7. Apakah manfaat Transpirasi bagi tumbuhan ?
1.3 Manfaat Penulisan
Penulisan ini diharapkan menjadi bahan informasi dan sumbangan pemikiran bagi pembaca untuk mengetahui tentang transpirasi, baik pengertian transpirasi, tipe transpirasi, alur transpirasi, mekanisme transpirasi, faktor yang mempengaruhi transpirasi, dan manfaat transpirasi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Defenisi Transpirasi
Terlepasnya air dalam bentuk uap air melalui stomata ke udara bebas disebut transpirasi (Dwijoseputra, 1998). Bentuk pelepasan air transpirasi bersama-sama dengan air yang menempel pada permukaan daun dan batang, secara keseluruhan disebut evapotranspirasi. Evaporasi merupakan pelepasan uap air dari benda-benda tak hidup, seperti dari bebatuan, tanah, permukaan luar batang, dsb.
Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata (Lakitan, 1993). Kemungkinan kehilangan air dari jaringan lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Oleh sebab itu, dalam perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan tanaman umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui stomata (Loveless,1991).
Stomata merupakan alat istimewa pada tumbuhan, yang merupakan modifikasi beberapa sel epidermis daun, baik epidermis permukaan atas maupun bawah daun. Struktur stomata sangat bervariasi pada antar tumbuhan, terutama bila dibandingkan untuk antar tumbuhan yang lingkungan hidupnya cukup kontras. Melalui stoma tumbuhan menunjukkan kemampuan adaptifnya terhadap perubahan dan stress dari lingkungannya.
Transpirasi merupakan satu mekanisme untuk membuah kelebihan air atau air sisa metabolisme. Laju transpirasi dipengaruhi oleh faktor internal tumbuhan yang bersangkutan, maupun berbagai faktor klimatik lingkungannya. Secara internal, transpirasi dikontrol dengan pengaturan konduktivitas stomata, daya hisap daun, dan tekanan akar, laju fotosintesis dan respirasi, serta jenis dan umur tanamannya. Sedang faktor eksternal yang penting adalah suhu, kelembaban udara, kecepatan angin dan beda potensial air antara tanah dengan jaringan dan atmosfer. Oleh bermacam-macam tenaga penggerak dan daya kohesi, maka dalam tubuh tumbuhan terbentuk aliran air atau benang air yang tak terputus.
Di sisi lain, transpirasi dapat dipandang sebagai salah satu mekanisme pelepasan kelebihan panas tubuh tumbuhan, serta mendorong aliran air tanah masuk ke jaringan 10 untuk mendapatkan berbagai nutrisi yang dibutuhkan. Transpirasi juga merupakan mekanisme kontrol keseimbangan stabilitas cairan tubuh. Jumlah air yang ditranspirasikan sangat tergantung pada jenis tanamannya, sehingga bersifat khas untuk tanaman (fauziyah, 2012). Stabilitas cairan tubuh terjaga apabila volum penyerapan air sebanding dengan volum kebutuhan air untuk mempertahankan turgiditas jaringan (tekanan hidrostatik) dan air untuk mendukung metabolisme serta stabilisasi suhu jaringannya. Bila transpirasi berlebihan yang tidak seimbang dengan aliran air yang masuk, maka jaringan akan kehilangan turgiditasnya. Tumbuhan menjadi layu atau bahkan mengering dan mati.
2.2 Tipe-Tipe Transpirasi
Dikenal ada tiga jenis transpirasi, yaitu transpirasi stomata, transpirasi kutikula dan transpirasi lentisel. Sebagian besar air terlepas melalui stomata, kehilangan air melalui kutikula hanya mencapai 5 sampai 10 persen dan kehilangan air melalui letisel kurang lebih 0,1 persen dari jumlah air yang ditranspirasikan. Dalam bukunya, Loveless (1991) menyatakan ada dua tipe transpirasi yaitu :
1. Transpirasi Kutikula.
Adalah evaporasi air yang tejadi secara langsung melalui kutikula epidermis. Kutikula daun secara relatif tidak tembus air, dan pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya sebesar 10 persen atau kurang dari jumlah air yang hilang melalui daun-daun. Oleh karena itu, sebagian besar air yang hilang terjadi melaui stomata.
2. Transpirasi Stomata
Sel-sel mesofil daun tidak tersusun rapat, tetapi diantara sel-sel tersebut terdapat ruang-ruang udara yang dikelilingi oleh dinding-dinding sel mesofil yang jenuh air. Air menguap dari dinding-dinding basah ini ke ruang-ruang antar sel, dan uap air kemudian berdifusi melalui stomata dari ruang-ruang antar sel ke athmosfer di luar. Sehingga dalam kondisi normal evaporasi membuat ruang-ruang itu selali jenuh uap air. Asalkan stomata terbuka, difusi uap air ke athmosfer pasti terjadi kecuali bila atmosfer itu sendiri sama-sama lembap.
2.3 Alur Transpirasi
Adapun alur transpirasi atau proses transpirasi terdiri dari :
1. Tanaman mendapatkan air, nutrisi, dan mineral dari tanah dengan bantuan akar melalui proses osmosis.
2. Karena tekanan air rendah yang terdapat di daun dan bagian atas tanaman, air melakukan perjalanan dari akar ke bagian atas tumbuhan melalui xilem.
3. Air dan mineral bersama dengan CO2 dan klorofil di daun lantas siap menjalani proses fotosintesis.
4. Di tahap ini, proses transpirasi dimulai. Ketika mencapai daun, air dibawa ke permukaan daun dengan bantuan stomata. Stomata juga membantu dalam pertukaran gas, yaitu mengambil CO2 dan melepaskan O2 ke atmosfer.
proses pengangkutan air dan zat zat terlarut hingga sampai ke daun pada tumbuhan dipengaruhi oleh :
ü Daya kapilaritas : pembuluh xylem yang terdapat pada tumbuhan dianggap sebagai pipa kapiler. Air akan naik melalui pembuluh kayu sebagai akibat dari gaya adhesi antara dinding pembuluh kayu dengan molekul air.
ü Daya tekan akar : tekanan akar pada setiap tumbuhan berbeda-beda. Besarnya tekanan akar dipengaruhi besar kecil dan tinggi rendahnya tumbuhan (0,7 - 2,0 atm). Bukti adanya tekanan akar adalah pada batang yang dipotong, maka air tampak menggenang dipermukaan tunggaknya.
ü Daya hisap daun : disebabkan adanya penguapan (transpirasi) air dari daun yang besarnya berbanding lurus dengan luas bidang penguapan (intensitas penguapan).
Gambar 1. Proses pengangkutan air yang melawan gaya gravitasi bumi
2.4 Mekanisme Membuka dan Metutupnya Stomata
Mekanisme membuka menutupnya stomata merupakan peristiwa yang kompleks. Para Fisiologi sependapat bahwa membuka – menutupnya stomata terjadi karena perubahan atau pengaturan turgor sel penutup. Tekanan turgor terbentuk oleh adanya aliran air dari sel-sel sekitarnya. Keluar masuknya air ke sel penutup pada dasarnya adalah peristiwa osmosis (difusai air melalui membran). Masuknya air secara osmotik ke sel penutup membuat stomata membuka. Sebaliknya, stomata akan menutup seiring dengan keluarnya air dari sel penutup ke sel-sel sekitarnya.
Banyak faktor yang mempengaruhi aktivitas buka-tutupnya stomata. Kondisi lingkungan tersebut antara lain seperti konsentrasi CO2, suhu, kelembaban udara, intensitas pencahayaan, dan kecepatan angin. Pada umumnya stoma membuka pada siang hari, kecuali tumbuhan gurun. Membukanya stomata pada malam hari untuk tumbuhan gurun merupakan bentuk adaptasi fisiologis untuk mengurangi resiko hilangnya air berlebihan.
Arah pergerakan air ditentukan oleh perbedaan potensial air atau tekanan osmotik antara sel penutup dengan sel-sel di sekitarnya. Bila tekanan osmotik sel penutup lebih negatif (PO meningkat; cairan sel lebih pekat; potensial airnya lebih rendah) dari pada sekelilingnya, maka air dari sel-sel sekitarnya akan bergerak masuk menuju sel penutup. Sebaliknya, jika PO sel penutup lebih rendah atau potensial airnya lebih tinggi, maka air akan berosmosis dari sel penutup menuju sel tetangga. Persoalannya adalah bagaimana mekanisme tumbuhan mengontrol PO yang dinamis sesuai fluktuasi perubahan lingkungannya.
Beberapa teori berusaha menjelaskan mekanisme buka – tutupnya stomata, di antaranya adalah teori “gerakan atau pompa ion K”. Masuknya ion K terjadi secara difusi melalui pertukaran ion dengan Cl- dan H+. Telah diketahui bahwa K+ terlibat dalam metabolisme karbohidrat, karena perananya mendukung aktivitas enzim fosforilase. Enzim ini berperan dalam konversi amilum menjadi glukosa. Bila ion K meningkat pada sel penutup, aktivitas pengubahan amilum menjadi glukosa juga meningkat. Dengan bertambahnya konsentrasi glukosa sel penutup maka akan meningkatkan potensial osmotik selnya. Dengan demikian akan menggerakkan air sel-sel sekitarnya berosmosis menuju sel penutup. Akibatnya, tekanan turgor sel penutup meningkat dan stoma membuka.
Terbentuknya celah mulut karena ada dua faktor struktural sel penutup yang
mendukung.
1. kedua ujung dari dua sel penutup saling menempel/ berdekatan satu sama lain, sehingga pada saat turgor meningkat, sel penutupnya akan melengkung dan membentuk celah yang dibatasi oleh kedua dinding sel penutup.
2. Adanya benang-benang mikrofibril selulosa yang terorientasi secara radial (miselasi radial). Hal ini memungkinkan sel tumbuh memanjang dan bukan tumbuh membesar ke arah samping. Dengan demikian bila turgor ke dua sel penutup memanjang, sementara bagian ujung-ujungnya saling bertautan di tempatnya, maka akan tumbuh melengkung dan membentuk celah mulut. Selain stomata, alat bantu bernafas lain adalah akar nafas atau akar udara. Bagi tumbuhan bakau (Mangrove) seperti Avicennia germinans, dan Rhizophora, akar nafas (pneumatofor) mencuat ke atas hingga di atas permukaan air (geotropik negatif). Akar ini digunakan untuk membantu memperoleh udara bagijaringan air yang hidup pada tanah terendam air laut yang aerasinya buruk.
2.5 Mekanisme Transpirasi Melalui Daun
Secara alamiah tumbuhan mengalami kehilangan air melalui penguapan. Proses kehilangan air pada tumbuhan ini disebut transpirasi. Pada transpirasi, hal yang penting adalah difusi uap air dari udara yang lembab di dalam daun ke udara kering di luar daun. Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air ke dalam daun dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan dari tanah ke akar. Ada banyak langkah dimana perpindahan air dan banyak faktor yang mempengaruhi pergerakannya.
Daun tersusun atas sel-sel epidermis atas, jaringan mesofil yang terdiri atas jaringan palisade dan jaringan bunga karang dengan ikatan pembuluh diantara sel epidermis bawah dengan stomata. Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel-sel mesofil ke rongga antar sel yang ada dalam daun. Dalam hal ini rongga antar sel jaringan bunga karang merupakan rongga yang besar, sehingga dapat menampung uap air dalam jumlah yang banyak. Penguapan air ke rongga antar sel akan terus berlangsung selama rongga antar sel belum jenuh dengan uap air. Sel-sel yang menguapkan airnya kerongga antar sel tentu akan mengalami kekurangan air sehingga potensial airnya menurun. Kekurangan air ini akan diisi oleh air yang berasal dari xylem tulang daun yang selanjutnya tulang daun akan menerima air dari batang dan batang menerima dari akar.
Uap air yang terkumpul dalam rongga antar sel akan tetap berada dalam rongga antar sel tersebut selama stomata pada epidermis daun tidak membuka. Kalaupun ada uap air yang keluar menembus epidermis dan kutikula, jumlahnya hanya sedikit dan dapat diabaikan. Agar transpirasi dapat berjalan, maka stomata pada epidermis tadi harus membuka. Apabila stomata membuka, maka akan ada penghubung antara rongga antar sel dengan atmosfer.
Gambar 2. Mekanisme Transpirasi
Stomata tumbuhan pada umumnya membuka pada saat matahari terbit dan menutup saat hari gelap sehingga memungkinkan masuknya CO2 yang diperlukan untuk fotosintesis pada siang hari. Umumnya, proses pembukaan memerlukan waktu 1 jam dan penutupan berlangsung secara bertahap sepanjang sore. Stomata menutup lebih cepat jika tumbuhan ditempatkan dalam gelap secara tiba-tiba (Salisbury dan Ross, 1995). Loveless (1991) dalam literaturnya menyebutkan terbukanya stomata pada siang hari tidak terhambat jika tumbuhan itu berada dalam udara tanpa karbon dioksida, yaitu keadaan fotosintesis tidak dapat terlaksana. Kalau tekanan uap air di atmosfer lebih rendah dari rongga antar sel, uap air dari rongga antar sel akan keluar ke atmosfer dan prosesnya disebut transpirasi.
·
Gambar 3. Lubang Stomata
2.6 Faktor yang Mempengaruhi Traspirasi
Kegiatan transpirasi terpengaruh oleh banyak faktor baik faktor-faktor dalam ataupun faktor-faktor luar, yang terhitung sebagai faktor-faktor dalam adalah:
1. Besar kecilnya daun
Besar kecilnya daun yang terdapat pada tumbuhan akan mempengaruhi transpirasi. Jika tumbuhan memiliki ukuran daun kecil, maka stomata yang terdapat di daun sedikit dan proses transpirasi lamban. Apabila tumbuhan memiliki ukuran daun besar, maka stomata yang terdapat di daun banyak dan akan memperlancar proses transpirasinya.
2. Tebal tipisnya daun
3. Berlapiskan lilin atau tidaknya permukaan daun
4. Banyak sedikitnya bulu di permukaan daun
5. Banyak sedikitnya stomata
6. Bentuk dan lokasi stomata
Adapun yang terdiri dari faktor luar yang mempengaruhi transpirasi :
1. Sinar matahari
Sinar matahari menyebabkan membukanya stomata dan gelap menyebabkan tertutupnya stomata, jadi banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi. Karena sinar itu juga mengandung panas (terutama sinar infra-merah), maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan demikian menaikkan temperatur. Kenaikan tempratur sampai pada suatu batas yang tertentu menyebabkan melebarnya stomata dan dengan demikian memperbesar transpirasi.
2. Temperatur
Merupakan faktor lingkungan yang terpenting yang mempengaruhi transpirasi daun yang ada dalam keadaan turgor. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi daun yang kena sinar matahari mempunyai suhu 10o -20o F lebih tinggi daripada suhu udara.
Pengaruh tempratur terhadap transpirasi daun dapat pula ditinjau dari sudut lain, yaitu didalam hubungannya dengan tekanan uap air di dalam daun dan tekanan uap air di luar daun. Kenaikan tempratur menambah tekanan uap di dalam daun. Kenaikan tempratur itu sudah barang tentu juga menambah tekanan uap di luar daun, akan tetapi berhubung udara di luar daun itu tidak di dalam ruang yang terbatas, maka tekanan uap tiada akan setinggi tekanan uap yang terkurung didalam daun. Akibat dari pada perbedaan tekanan ini, maka uap air akan mudah berdifusi dari dalam daun ke udara bebas
3. Kebasahan udara (Kelembaban udara)
Pada hari cerah udara tidak banyak mengandung uap air. Di dalam keadaan yang demikian itu, tekanan uap di dalam daun jauh lebih lebih tinggi dari pada tekanan uap di luar daun, atau dengan kata lain, ruang di dalam daun itu lebih kenyang akan uap air daripada udara di luar daun, jadi molekul-molekul air. berdifusi dari konsentrasi tinggi (di dalam daun) ke konsentrasi yang rendah (diluar daun). Kesimpulannya ialah, udara yang basah menghambat transpirasi, sedang udara kering melancarkan transpirasi
4. Angin
Pada umumnya angin yang sedang, menambah kegiatan transpirasi. Karena angin membawa pindah uap air yang bertimbun-timbun dekat stoma. Dengan demikian, maka uap yang masih ada di dalam daun kemudian mendapat kesempatan untuk difusi ke luar.
Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju transpirasi. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa angin cenderung untuk meningkatkan laju transpirasi, baik di dalam naungan atau cahaya, melalui penyapuan uap air. Akan tetapi, di bawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun, dengan demikian terhadap penurunan laju transpirasi, cenderung lebih penting daripada pengaruhnya terhadap penyingkiran uap air
Dalam udara yang sangat tenang suatu lapisan tipis udara jenuh terbentuk di sekitar permukaan daun yang lebih aktif bertranspirasi. Jika udara secara keseluruhan tidak jenuh, maka akan terdapat gradasi konsentrasi uap air dari lapisan udara jenuh tersebut ke udara yang semakin jauh semakin tidak jenuh. Dalam kondisi seperti itu transpirasi terhenti karena lapisan udara jenuh bertindak sebagai penghambat difusi uap air ke udara di sekitar permukaan daun.
Oleh karena itu, dalam udara yang tenang terdapat dua tahanan yang harus ditanggulangi uap air untuk berdifusi dari ruang-ruang antar sel ke udara luar. Yang pertama adalah tahanan yang harus dilalui pada lubang-lubang stomata, dan yang kedua adalah tahanan yang ada dalam lapisan udara jenuh yang berdampingan dengan permukaan daun. Oleh karena itu dalam udara yang bergerak, besarnya lubang stomata mempunyai pengaruh lebih besar terhadap transpirasi daripada dalam udara tenang. Namun, pengaruh angin sebenarnya lebih kompleks dari pada uraian tadi karena kecendrungannya untuk meningkatkan laju transpirasi sampai tahap tertentu dikacaukan oleh kecendrungan untuk mendinginkan daun-daun sehingga mengurangi laju transpirasi. Tetapi efek angin secara keseluruhan adalah selalu meningkatkan transpirasi
5. Keadaan air dalam tanah
Air di dalam tanah ialah satu-satunya suber yang pokok, dari mana akar-akar tanaman mendapatkan air yang dibutuhkannya. Absorpsi air lewat bagian-bagian lain yang ada di atas tanah seperti batang dan daun juga ada, akan tetapi pemasukan air lewat bagian-bagian itu tiada seberapa kalau dibanding dengan penyerapan air melalui akar.
Tersedianya air dalam tanah adalah faktor lingkungan lain yang mempengaruhi laju transpirasi. Bila kondisi air tanah sedemikian sehingga penyediaan air ke sel-sel mesofil terhambat, penurunan laju transpirasi akan segera tampak.
2.7 Manfaat Transpirasi
Bagi tumbuhan, transpirasi yang berlangsung memberikan beberapa manfaat, antara lain :
1) Menyebabkan terjadinya daya isap daun sehingga terjadi transport air di batang.
2) Membantu penyerapan air dan zat hara oleh akar.
3) Mengurangi air yang terserap secara berlebihan.
4) Mempertahankan temperature yang sesuai untuk daun.
5) Mengatur fotosintesis dengan menbuka dan meututupnya stomata.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Proses penguapan uap melalui stomata disebut transpirasi. Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel-sel mesofil ke rongga antar sel yang ada dalam daun. Penguapan air ke rongga antar sel akan terus berlangsung selama rongga antar sel belum jenuh dengan uap air. Kekurangan air pada sel-sel yang menguapkan airnya kerongga antar sel akan diisi oleh air yang berasal dari xylem tulang daun yang selanjutnya tulang daun akan menerima air dari batang dan batang menerima dari akar. Agar transpirasi dapat berjalan, maka stomata pada epidermis harus membuka, Keluar masuknya air ke sel penutup pada dasarnya adalah peristiwa osmosis (difusai air melalui membran). Masuknya air secara osmotik ke sel penutup membuat stomata membuka. Sebaliknya, stomata akan menutup seiring dengan keluarnya air dari sel penutup ke sel-sel sekitarnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi transpirasi terdiri dari faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam terdiri dari besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapiskan lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak bulu dipermukaan daun, banyak sedikitnya stomata dan,bentuk dan lokasi stomata. Adapun faktor luar yang mempengaruhi transpirasi yaitu sinar matahari, temperatur, kelembaban udara, angin, dan keadaan air dalam tanah. Bagi tumbuhan transpirasi yang berlangsung memberikan beberapa manfaat, antara lain : membantu penyerapan air dan zat hara dari dalam tanah, membuang kelebihan air, pengaturan bukaan stomata, mempertahankan suhu daun, pengangkutan mineral, dan pembentukan energi.
3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa hasil makalah ini yang membahas tentang transpirasi pada tumbuhan belum lengkap dan masih jauh dari pengharapan, Hal ini disebabkan karena keterbatasan ilmu dan literatur yang penulis miliki pada saat ini. Penulis sangat mengharapkan kritikan terutama dari pembaca dan teman-teman. Adanya kritikan yang membangun yang bisa melengkapi makalah ini di masa mendatang. Hanya kepada Allah Swt. Semua ini diserahkan, semoga selalu diberikan petunjuk dan ridha-Nya setiap saat kepada kita semua. Amin Yarabbal Alamin.
DAFTAR PUSTAKA
Dwijoseputro, D. 1988. Pengantar Fisioogi Tumbuhan. Jakarta : PT. Gramedia
Harahap, F. 2012. Suatu Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Medan : Unimed Pres.
http://dwinanda-ndvir.blogspot.com/2011/01/kompromi-fotosintesis-transpirasi.html.
Diakses tanggal 18 Agustus 2013
http://www.fisiologi-pohon.com/proses-transpirasi/.html. Diakses tanggal 18 Agustus 2013
Loveless, 1991. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Jakarta : PT. Gramedia
Salisburry, 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB
Sabtu, 12 Mei 2012
makalah crinoidea
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Echinodermata
(dalam bahasa yunani, echino = landak, derma = kulit) adalah kelompok hewan
triopoblastik selomata yang memilki ciri khas adanya rangka dalam
(endoskeleton) berduri yang menembus kulit.Ciri tubuh Ciri tubuh Echinodermata
meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh Ukuran dan bentuk tubuh
Bentuk tubuh Echinodermata ada yang seperti bintang, bulat, pipih, bulat
memanjang, dan seperti tumbuhan. Tubuh terdiri dari bagian oral (yang memiliki
mulut) dan Aboral (yang tidak memiliki mulut).Struktur dan fungsi tubuh
Permukaan Echinodermata umumnya berduri, baik itu pendek tumpul atau runcing
panjang.Duri berpangkal pada suatu lempeng kalsium karbonat yang disebut
testa.Sistem saluran air dalam rongga tubuhnya disebut ambulakral.Ambulakral
berfungsi untuk mengatur pergerakan bagian yang menjulur keluar tubuh, yaitu
kaki ambulakral atau kaki tabung ambulakral.Kaki ambulakral memiliki alat
isap.sistem pencernaan terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan
anus.Sistem ekskresi tidak ada.Pertukaran gas terjadi melalui insang kecil yang
merupakan pemanjangan kulit.Sistem sirkulasi belum berkembang
baik.Echinodermata melakukan respirasi dan makan pada selom.Sistem saraf
Echinodermata terdiri dari cincin pusat saraf dan cabang saraf.Echinodermata
tidak memiliki otak.Untuk reproduksi Echinodermata ada yang bersifat
hermafrodit dan dioseus.
B.
Peran
Echinodermata bagi Manusia.
Echinodermata dimanfaatkan oleh manusia
sebagai berikut.
- Makanan.Misalnya telur landak laut yang banyak dikonsumsi di
Jepang dan keripik timun laut yang banyak dijual di Sidoarjo. Jawa Timur.
- Bahan penelitian mengenai fertilisasi dan
perkembangan awal.Para ilmuwan biologi sering mengggunakan gamet dan embrio
landak laut.Namun, bintang laut sering dianggap merugikan oleh pembudidaya
tiram mutiara dan kerang laut karena merupakan predator hewan-hewan budidaya
tersebut.
C.
Klasifikasi
Echinodermata dikelompokkan menjadi lima kelas,
yaitu Asteroidea, Ophiuroidea, hinoidea,Holothuroidea, dan Crinoidea.
Asteroidea
Asteroidea merupakan spesies Echinodermata yang paling banyak jumlahnya, yaitu sekitar 1.600 spesies.Asteroidea juga sering disebut bintang laut.Contoh spesies ini adalah Acanthaster sp., Linckia sp., dan Pentaceros sp.Tubuh Asteroidea memiliki duri tumpul dan pendek.Duri tersebut ada yang termodifikasi menjadi bentuk seperti catut yang disebut Pediselaria.Fungsi pediselaria adalah untuk menangkap makanan serta melindungi permukaan tubuh dari kotoran.Pada bagian tubuh dengan mulut disebut bagian oral, sedangkan bagian tubuh dengan lubang anus disebut aboral.Pada hewan ini, kaki ambulakral selain untuk bergerak juga merupakan alat pengisap sehingga dapat melekat kuat pada suatu dasar.
Asteroidea merupakan spesies Echinodermata yang paling banyak jumlahnya, yaitu sekitar 1.600 spesies.Asteroidea juga sering disebut bintang laut.Contoh spesies ini adalah Acanthaster sp., Linckia sp., dan Pentaceros sp.Tubuh Asteroidea memiliki duri tumpul dan pendek.Duri tersebut ada yang termodifikasi menjadi bentuk seperti catut yang disebut Pediselaria.Fungsi pediselaria adalah untuk menangkap makanan serta melindungi permukaan tubuh dari kotoran.Pada bagian tubuh dengan mulut disebut bagian oral, sedangkan bagian tubuh dengan lubang anus disebut aboral.Pada hewan ini, kaki ambulakral selain untuk bergerak juga merupakan alat pengisap sehingga dapat melekat kuat pada suatu dasar.
Ophiuroidea
Ophiuroidea terdiri dari 2.000 spesies, contohnya adalah bintang ular (Ophiothrix).Ophiuroidea (dalam bahasa yunani, ophio = ular) berbentuk seperti asteroidea, namun lengannya lebih langsing dan fleksibel.Cakram pusatnya kecil dan pipih dengan permukaan aboral (dorsal) yang halus atau berduri tumpul.Ophiuroidea tidak memiliki pediselaria.Cakram pusat berbatasan dengan lengan-lengannya Hewan ini pun juga dapat beregenerasi
Ophiuroidea terdiri dari 2.000 spesies, contohnya adalah bintang ular (Ophiothrix).Ophiuroidea (dalam bahasa yunani, ophio = ular) berbentuk seperti asteroidea, namun lengannya lebih langsing dan fleksibel.Cakram pusatnya kecil dan pipih dengan permukaan aboral (dorsal) yang halus atau berduri tumpul.Ophiuroidea tidak memiliki pediselaria.Cakram pusat berbatasan dengan lengan-lengannya Hewan ini pun juga dapat beregenerasi
Echinoidea
Echinoidea berbentuk bola atau pipih, tanpa lengan.Echinoidea yang berbentuk bola misalnya bulu babi (diadema saxatile) dan landak laut (Arabcia punctulata).Permukaan tubuh hewan ini berduri panjang.Echinoidea memilki alat pencernaan khas, yaitu tembolok kompleks yang disebut lentera aristoteles.Fungsi dari tembolok tersebut adalah untuk menggiling makanannya yang berupa ganggang atau sisa-sisa organisme.Echinoidea yang bertubuh pipih misalnya dolar pasir (Echinarachnius parma).Permukaan sisi oral tubuhnya pipih, sedangkan sisi aboralnya agak cembung.Tubuhnya tertutupi oleh duri yang halus dan rapat.Durinya berfungsi untuk bergerak, menggali, dan melindungi permukaan tubuhnya dari kotoran.Kaki ambulakral hanya terdapat di sisi oral yang berfungsi utuk mengangkut makanan.
Echinoidea berbentuk bola atau pipih, tanpa lengan.Echinoidea yang berbentuk bola misalnya bulu babi (diadema saxatile) dan landak laut (Arabcia punctulata).Permukaan tubuh hewan ini berduri panjang.Echinoidea memilki alat pencernaan khas, yaitu tembolok kompleks yang disebut lentera aristoteles.Fungsi dari tembolok tersebut adalah untuk menggiling makanannya yang berupa ganggang atau sisa-sisa organisme.Echinoidea yang bertubuh pipih misalnya dolar pasir (Echinarachnius parma).Permukaan sisi oral tubuhnya pipih, sedangkan sisi aboralnya agak cembung.Tubuhnya tertutupi oleh duri yang halus dan rapat.Durinya berfungsi untuk bergerak, menggali, dan melindungi permukaan tubuhnya dari kotoran.Kaki ambulakral hanya terdapat di sisi oral yang berfungsi utuk mengangkut makanan.
Holothuroidea
Holothuroidea dikenal dengan nama timun laut atau teripang.Contoh hewan ini adalah Cucumaria sp., Holothuria sp., dan Bohadschia argus.Hewan ini tidak berlengan dan anus terdapat pada kutub yang berlawanan dari tubuhnya.Daerah ambulakral dan inter-ambulakral tersusun berselang-seling di sepanjang tubuhnya.Alur ambulakral tertutup, madreporit terdapat di rongga tubuhnya.Sebagian kaki ambulakral termodifikasi menjadi tentakel oral.Sistem respirasinya disebut pohon respirasi, karena sistem tersebut terdiri dari dua saluran utama yang bercabang pada rongga tubuhnya.Keluar dan masuknya air melalui anus.
Holothuroidea dikenal dengan nama timun laut atau teripang.Contoh hewan ini adalah Cucumaria sp., Holothuria sp., dan Bohadschia argus.Hewan ini tidak berlengan dan anus terdapat pada kutub yang berlawanan dari tubuhnya.Daerah ambulakral dan inter-ambulakral tersusun berselang-seling di sepanjang tubuhnya.Alur ambulakral tertutup, madreporit terdapat di rongga tubuhnya.Sebagian kaki ambulakral termodifikasi menjadi tentakel oral.Sistem respirasinya disebut pohon respirasi, karena sistem tersebut terdiri dari dua saluran utama yang bercabang pada rongga tubuhnya.Keluar dan masuknya air melalui anus.
Crinoidea
Hewan ini berbentuk seperti tumbuhan.Crinoidea terdiri dari kelompok yang tubuhnya bertangkai dan tidak bertangkai.Kelompok yang bertangkai dikenal sebagai lili laut, sedangkan yang tidak bertangkai dikenal sebagai bintang laut berbulu.Contoh lili laut adalah Metacrinus rotundus dan untuk bintang laut berbulu adalah Oxycomanthus benneffit dan Ptilometra australis.Lili laut menetap di kedalaman 100 m atau lebih.Sedangkan yang berbulu hidup di daerah pasang surut sampai laut dalam.Kedua kelompok tersebut memiliki oral yang menghadap ke atas.Lengannya yang berjumlah banyak mkengelilingi bagian kaliks (dasar tubuh).Pada kaliks terdapat mulut dan anus.Jumlah lengan kelipatan lima dan mengandung cabang-cabang kecil yang disebut pinula.Sistem ambulakral tidak memiliki madreporit dan ampula.Crinoidea adalah pemakan cairan, misalnya zooplankton atau partikel makanan.
Adapun dalam penulisan makalah ini,penulis hanya membahas salah satu kelas dari Echinodermata yaitu kelas Crinoidea.
Hewan ini berbentuk seperti tumbuhan.Crinoidea terdiri dari kelompok yang tubuhnya bertangkai dan tidak bertangkai.Kelompok yang bertangkai dikenal sebagai lili laut, sedangkan yang tidak bertangkai dikenal sebagai bintang laut berbulu.Contoh lili laut adalah Metacrinus rotundus dan untuk bintang laut berbulu adalah Oxycomanthus benneffit dan Ptilometra australis.Lili laut menetap di kedalaman 100 m atau lebih.Sedangkan yang berbulu hidup di daerah pasang surut sampai laut dalam.Kedua kelompok tersebut memiliki oral yang menghadap ke atas.Lengannya yang berjumlah banyak mkengelilingi bagian kaliks (dasar tubuh).Pada kaliks terdapat mulut dan anus.Jumlah lengan kelipatan lima dan mengandung cabang-cabang kecil yang disebut pinula.Sistem ambulakral tidak memiliki madreporit dan ampula.Crinoidea adalah pemakan cairan, misalnya zooplankton atau partikel makanan.
Adapun dalam penulisan makalah ini,penulis hanya membahas salah satu kelas dari Echinodermata yaitu kelas Crinoidea.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Kelas Crinoidea
Hewan ini
mirip tumbuhan, karena bentuknya menyerupai bunga lili. Kulitnya tersusun dari
zat kitin. Biasanya melekat pada dasar perairan. Jika lingkungsn tidak
memungkinkan, misalnya makanan habis atau keselamatannya terancam, ia akan
pindah ke tempat lain yang sesuai dan aman. Kelompok hewan ini juga sering
disebut bintang bulu. Juga dikenal sebagai lili laut atau lilia laut yaitu
hewan yang mempunyai lengan bercabang serta anus dan mulut berada di permukaan
oral, kaki tabungnya tidak mempunyai saluran penghisap. dan alur
ambulakranya terbuka,tidak memiliki madreporit, duri ataupun pedicillariae
Tumbuh
pada pangkalnya dengan bantuan permukaan aboral, tubuhnya kecil sseperti
mangkuk disebut dengan calyx yang melekat pada dasar laut dengan bantuan akar
(cirri). Dari calyx itu akan tersembul 5 lengan yang lentur, yang mempunyai
bagian tentakel yang pendek, masing-masing mempunyai pinnulae yang banyak
sekali sehingga seperti bulu burung yang terurai. Beberapa jenis lili laut
memiliki stalk atau tangkai yang berasal dari daerah aboral dari calyx. Alat
ini (tangkai) sebagai alat melekat pada dasar laut, seolah-olah sebagai batang
dengan akar.
Sebagian
besar dari mereka hidup di laut yang sedang jeluknya, beberapa jenis berupa
hewan laut jeluk dan beberapa jenis lagi mendiami laut dangkal, antaranya di
terumbu karang.
B.
Struktur
Ukurannya tidak lebih dari 40 cm
panjangnya dan berwarna mencolok. Tubuhnya terdiri dari cakram sentral dengan
lima lengan bermula dari cakram ini setiap lengan bercabang dua atau lebih.
Setiap casbang mempunyai ranting-ranting melintang yang disebut pinul
(pinnulae). Cabang-cabang ini membuat hewan berbulu-bulu. Cakram sentral
bentuknya seperti mangkuk dengan mulut terletak di dasar (di bawah).
C.
Sistem Pencernaan
Makanan berupa plankton kecil atau
bahan lainnya yang mikroskopis, yang dibawa oleh lengan atau ditangkap oleh
tentakel, dilewatkan sepanjang alur ambulakral dengan bulu-getar yang
bergerak-gerak, yang selanjutnya digiring oleh silia ke dalam mulut. Memiliki
Sebuah tangkai yang tumbuh dari cakram sering digunakan untuk melekatkan hewan
pada substrat dasar, akibatnya mulut tetap di atas dan lengan-lengan seperti
bulu menciptakan alat seperti jaring untuk menangkap dan mengangkut makanan ke
mulut. Ada yang tidk mempunyai tangkai, atau menghilang waktu menjadi dewasa
dan dapat menggerakkan lengannya untuk berpindah-pindah.
Lekukan ambulakral yang ditandai dengan garis bersilia dan berisi tentakel seperti kaki buluh.
Lekukan ambulakral yang ditandai dengan garis bersilia dan berisi tentakel seperti kaki buluh.
Coelom adalah sempit dan gonad
biasanya terdapat dalam pinnulae. Crinoidea mempunyai daya regenerasi besar
sekali, bagian lengan atau calyx yang hilang akan segera diperbaharui.
Kelompok hewan ini merupakan hewan
yang peka, tetapi mempunyai kemampuan regenerasi tinggi sehingga dapat
menyembuhkan diri jika luka. Kira-kira ada 600 jenis mewakili 150 marga dari 30
suku. Sisa-sisa fosil banyak terdapat pada formasi kapur. Sepintas lalu tampak
seperti tumbuhan. Pemukaan oral hewan ini menghadap ke atas (berbeda dengan
echinodermata lainnya), misalnya: Ptilocrinus pinnatus.
D.
Ciri-ciri Crinoidea :
1
Bentuk tubuh seperti tumbuhan tapi ada yang bertangkai dan
ada yang tidak bertangkai.
2
Crinoidea yang bertangkai adalah individu yang tidak dapat
bergerak dan mulutnya terarah keatas
3
Crinoidea yang tak bertangkai merupakan indivvidu yang dapat
bergerak bebas didalam laut.
4
Tubuhnya menyerupai bunga lili atau bunga bakung dan bentuk
seperti bulu burung.
5
Terdapat keping-keping theka dengan percabangan lengan
panjang.
6
Beberapa spesies mempunyai tangkai arah aboral.
7
Tidak mempunyai duri
8
Kaki tabungnya kurang mempunyai suber (alat isap)
9
Tidak memiliki madrepori
10
Sistem syaraf berbentuk cincin yang selanjutnya
bercabang-cabang pada tiap lengan
11
Kulitnya tersusun dari zat kitin.
Contoh spesies dari Crinoidea adalah
:
1.
Antedon sp,
2.
Anemon sp
3.
Holopus, dan
4.
Metacrinus (lili laut).
Antedon sp (bisa berenang) dan
Anemon sp menyerupai pohon, yang hidupnya menempel dengan mempergunakan
tangkai. Pada permukaan oral biasanya terdapat mulut dan anus.
Mulut dan anus terletak sebelah
menyebelah, mulut pada daerah oral, sedangkan anus pada daerah aboral. Anus
sering terdapat pada kerucut yang menonjol. Pada bidang oral setiap lengan
memiliki lekukan ambulakral seperti garis bersilia yang berisi tentakel
menyerupain kaki buluh.
Contoh
gambar Crinoidea :
Contoh
spesies dari Crinoidea :
1. Antedon tenella (Bulu bintang) bisa
berenang, dan Anemon Sp
2. Holopus
3. Metacrinus (lili laut)
Tidak ada laporan yang menunjukkan
bahwa terdapat hewan yang secara tetap memangsa Crinoidea. Pada tubuh Crinoidea
terdapat banyak makhluk yang komensial dan parasit, terutama Polychaeta yaitu
Polynoe, Mizostomum yang terdapat pada calyx atau lengannya. Beberapa
Gastropoda kecil mengelilingi atau mengerumuni Crinoidea untuk makan bagian
tubuh yang lunak.
Crinoidea
banyak terdapat pada zaman Palaezoicum, yang banyak endapan kapur di dasar laut
pada beberapa bagian kerak bumi terutama berasal dari kapur Crinoidea. Kelas
Crinoidea memiliki 80 spesies yang hidup menempel, di dasar laut, coral, dan
dimana saja membentuk kebun laut. Crinoidea yang menempel ada sampai sekarang
yaitu Antedon sp yang dapat berenang dengan menggunakan lengannya, tapi sering
memegang suatu objek di dasar laut dengan menggunakan cirri. Warna Crinoidea
bermacam-macam, ada yang putih, kuning, hijau, ataupun coklat.
E.
Sistem Reproduksi
Pada kelas Crinoidea, melepaskan
telur dalam air, tapi beberapa menahan tetap pada pinnulae sampai menetas.
Larva yang masih muda sekali masih mendapat makanan dari kuning telur, tapi
belum mempunyai mulut. Setelah beberapa hari dapat hidup bebas dan menempel
dengan akhir bagian anterior dan kemudian berbentuk cangkir, lalu tumbuhlah
lengannya. Beberapa Crinoidea menyimpan telurnya dalam tubuh.
F.
Kelas Crinoidea (Lili laut/Bakung
laut),
Kelas Crinoidea yang masih hidup
sampai saat ini adalah :
1. Ordo Inadunata.
2. Ordo Articulata, yang terdiri atas
Familia 1 Pentacrinidae, yang
memiliki tangkai pada cirri yang panjang, tidak memiliki akar, cakram tubuh
pada lengan terbagi secara dichotomi sampai 10 kali; Pannulae kecil; contoh :
Isocrinus, Asterias, yang banyak terdapat di laut Hindia.
Familia 2 Antedonidae, mempunyai
tangkai pada hewan yang masih muda; terdapat cirri pada dasar tangkai pada
hewan yang telah dewasa. Lengannya panjang berjumlah antara 5-25 buah;
mempunyai pinnulae yang beranggotakan sampai 100 species, merupakan hewan yang
kosmopolitan, contoh : Antedon tanella yang terdapat di sepanjang pantai daerah
Atlantik.
Familia 3 Cosmasteridae, mempunyai
tangkai pada hewan yang masih muda; memiliki cirri sedikit atau tidaknya pada
dasar tangkai. Mulut tidak tepat di tengah, spesies dari familia ini banyak
terdapat di laut dangkal tropis; contoh : Neocomatella alata, terdapat di laut
Hindia.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan permasalahan yang
dikemukakan diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Crinoidea dikenal
sebagai lili laut atau lilia laut yaitu hewan yang mempunyai lengan bercabang
serta anus dan mulut berada di permukaan oral, kaki tabungnya tidak mempunyai
saluran penghisap. dan alur ambulakranya terbuka,tidak memiliki
madreporit, duri ataupun pedicillariae
2. Hewan ini mirip
tumbuhan, karena bentuknya menyerupai bunga lili. Kulitnya tersusun dari zat
kitin. Biasanya melekat pada dasar perairan. Jika lingkungsn tidak
memungkinkan, misalnya makanan habis atau keselamatannya terancam, ia akan
pindah ke tempat lain yang sesuai dan aman. Kelompok hewan ini juga sering
disebut bintang bulu.
3. Makanan berupa
plankton kecil atau bahan lainnya yang mikroskopis, yang dibawa oleh lengan
atau ditangkap oleh tentakel, dilewatkan sepanjang alur ambulakral dengan
bulu-getar yang bergerak-gerak, yang selanjutnya digiring oleh silia ke dalam
mulut. Memiliki Sebuah tangkai yang tumbuh dari cakram sering digunakan untuk
melekatkan hewan pada substrat dasar, akibatnya mulut tetap di atas dan
lengan-lengan seperti bulu menciptakan alat seperti jaring untuk menangkap dan
mengangkut makanan ke mulut. Ada yang tidk mempunyai tangkai, atau menghilang
waktu menjadi dewasa dan dapat menggerakkan lengannya untuk berpindah-pindah.
B.
Saran
Penulis menyadari bahwa hasil
makalah ini yang membahas tentang Crinoidea belum lengkap dan masih jauh dari
pengharapan, Hal ini disebabkan karena keterbatasan ilmu dan literatur yang
penulis miliki pada saat ini. Penulis sangat mengharapkan kritikan terutama
dari pembaca dan teman-teman. Adanya kritikan
yang membangun yang bisa melengkapi
makalah ini di masa mendatang. Hanya kepada Allah Swt. Semua ini diserahkan,
semoga selalu diberikan petunjuk dan ridha-Nya setiap saat kepada kita semua.
Amin Yarabbal Alamin.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A. 2005. Biologi
Jilid 2. Edisi ke-5. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Beckett, B. 1996. Coordinated Science Biology. 2nd ed. Oxford University Press.
Harris, C.L 1992. Concept in Zoology. New York: Harper Collin Publisher, Inc.
Juana, Sri. 2001. Biologi Laut. Jakarta: Djambatan.
Suhardi. 1983. Ekologi Avertebrata. Jakarta: UI Press.
Kamis, 29 Maret 2012
kerang (Anadara Sp) phylum mollusca
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Phylum
mollusca sudah ada sejak zaman kambrian,kira-kira 450 juta tahun yang lalu. Hal
ini terbukti dengan banyaknya penemuan fosil molluska yang berasal dari zaman
kambria. Phylum hewani ini merupakan golongan kedua terbesar didunia hewan (regnum
animalia ). Semuanya tersebar,baik didarat(teresterial),maupun
diair(akuatik). Penyebaran hewan ini
sangat luas ,baik geografis maupun geologis. Dikenal lebih dari 100.000
spesies yang masih hidup dan mungkin lebih besar lagi jumlah fosilnya
Molluska
berasal dari kata’’molls’’yang artinya lunak,kalau ditinjau dari keadaan yang
primitif,tubuh molluska menunjukan simetris bilateral (dimana bagian sebelah kiri merupakan bayangan dari sebelah
kanan ). Dan sebagian besar tubuh hewan molluska yang lunak dilindungi oleh
cangkang (exoskleton) yang keras. Cangkang (exoskleton)yang melindungi tubuh
hewan molluska terbuat dari kalsium karbonat (CaCO3) atau zat kapur. Tubuh
utama molluska diselimuti oleh lipatan cangkang yang disebut cavumm
valli(paru). Hewan-hewan molluska telah memiliki sistem organ yang lengkap.
Pengertian kerang bersifat umum tidak memiliki arti secara
biologi, namun penggunaannya luas dan
dipakai dalam kegiatan ekonomi. Dalam pengertian paling luas, kerang berarti
semua moluska dengan sepasang cangkang. Dengan pengertian ini, lebih tepat orang menyebutnya
kerang-kerangan dan sepadan dengan arti clam yang dipakai di Amerika. Contoh pemakaian seperti ini
dapat dilihat pada istilah "kerajinan dari kerang".Kata kerang dapat
pula berarti semua kerang-kerangan yang hidupnya menempel pada suatu obyek. Ke
dalamnya termasuk jenis-jenis yang dapat dimakan, seperti kerang darah dan kerang hijau (kupang awung), namun tidak termasuk jenis-jenis yang dapat
dimakan tetapi menggeletak di pasir atau dasar perairan, seperti lokan dan remis.
Hewan
yang termasuk philum molluska memiliki tubuh lunak,tidak
beruas-ruas(segmen),dengan ciri tubuh bagian atas (anterior) adalah kepala
(caput),sisi bawah(ventral)berfungsi sebagai kaki musculer. Dan massa
visceranya terdapat pada sisi atas (dorsal).
Lingkungan perairan tropis Indonesia sangat
mendukung kehidupan kerang mutiara sehingga pertumbuhannya dapat berlangsung
sepanjang tahun. Kerang mutiara biasanya hidup di daerah terumbu karang atau substrat yang
berpasir, dan pola penyebaran kerang mutiara biasanya terdapat pada daerah yang
beriklim hangat di daerah tropis dan subtropis. Pertumbuhan kerang di daerah
subtropis berlangsung di musim panas (summer) sedangkan di musim dingin
(winter) pertumbuhannya berlangsung lambat atau terkadang tidak mengalami
pertumbuhan sama sekali.
Hal inilah yang menyebabkan waktu
pertumbuhan kerang mutiara di Indonesia (daerah tropis) cenderung 4,6 kali
lebih cepat dibandingkan dengan kerang mutiara Jepang (daerah subtropis).
A.
Rumusan Masaalah
Dari latar
belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan ini adalah
bagaimana cara kita bisa mengetahui lebih luas tentang kerang Mutiara (Anadara
sp)
B.
tujuan
Penulisan
Pada
penulisan yang penulis sajikan di atas maka tujuan yang ingin di capai adalah
supaya kita bisa mengetahui tentang Kerang Mutiara (Anadara sp)
C.
Manfaat
Penulisan
Adapun
manfaat yang dapat disimpulkan adalah penulis dan pembaca dapat mengetahui tentang
Kerang Mutiara (Anadara sp)
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian kerang
Kerang
adalah hewan air yang termasuk hewan bertubuh lunak (moluska). Pengertian
kerang bersifat umum dan tidak memiliki arti secara biologi namun penggunaannya
luas dan dipakai dalam kegiatan ekonomi.
Dalam pengertian paling luas, kerang berarti
semua moluska dengan sepasang cangkang. Dengan
pengertian ini, lebih tepat orang menyebutnya kerang-kerangan dan sepadan
dengan arti clam yang dipakai di Amerika. Contoh pemakaian seperti ini
dapat dilihat pada istilah "kerajinan dari kerang".
Kata
kerang dapat pula berarti semua kerang-kerangan yang hidupnya menempel pada
suatu obyek. Ke dalamnya termasuk jenis-jenis yang dapat dimakan, seperti
kerang darah dan kerang hijau (kupang awung), namun tidak termasuk jenis-jenis
yang dapat dimakan tetapi menggeletak di pasir atau dasar perairan, seperti
lokan dan remis.
Kerang juga dipakai untuk menyebut berbagai
kerang-kerangan yang bercangkang tebal, berkapur, dengan pola radial pada
cangkang yang tegas. Dalam pengertian ini, kerang hijau tidak termasuk di
dalamnya dan lebih tepat disebut kupang. Pengertian yang paling mendekati dalam
bahasa Inggris adalah cockle. Dalam pengertian yang paling sempit, yang
dimaksud sebagai kerang adalah kerang darah (Anadara granosa), sejenis
kerang budidaya yang umum dijumpai di wilayah Indo-Pasifik dan banyak dijual di
warung atau rumah makan yang menjual hasil laut.

Gambar
1. Kerang Mutiara
B.
Ciri-ciri umum
Semua
kerang-kerangan memiliki sepasang cangkang (disebut juga cangkok atau katup)
yang biasanya simetri cermin yang terhubung dengan suatu ligamen (jaringan
ikat). Pada kebanyakan kerang terdapat dua otot adduktor yang mengatur
buka-tutupnya cangkang.
Kerang tidak memiliki kepala (juga otak) dan
hanya simping yang memiliki mata. Organ yang dimiliki adalah ginjal, jantung,
mulut, dan anus. Kerang dapat bergerak dengan "kaki" berupa semacam
organ pipih yang dikeluarkan dari cangkang sewaktu-waktu atau dengan
membuka-tutup cangkang secara mengejut.
Sistem sirkulasinya terbuka, berarti tidak
memiliki pembuluh darah. Pasokan oksigen berasal dari darah yang sangat cair
yang kaya nutrisi dan oksigen yang menyelubungi organ-organnya.
Makanan kerang adalah plankton, dengan cara
menyaring. Kerang sendiri merupakan mangsa bagi cumi-cumi dan hiu.
Semua kerang adalah jantan ketika muda.
Beberapa akan menjadi betina seiring dengan kedewasaan.
C.
Fisiologi Anatomi
1)
Cangkang
Cangkang
adalah rangka luar pada kerang. Cangkang ini dibentuk oleh sel-sel cangkang
(epitel mantel) yang mengeluarkan secreta . Cangkang terdiri dari 3 lapisan
dari luar kedalam, adalah :
a.
Periostracum ,yang berwarna hitam,terbuat dari
bahan tanduk yang disebut cocchiolin.
b.
Prismatic ,yang tersusun dari kristal-kristal
kalsium karbonat(zat kapur yang berbentuk prisma )
c.
Lapisan nacreas (mutiara) ,juga terdiri dari
kristal-kristal kalsium karbonat (zat kapur yang berbentuk prisma tetapi
susunannya lebih rapat.
d.
Engsel cangkang dibentuk oleh jaringan ikat
yang disebut ligamentum. Kedua cangkang dapat membuka dan menutup , karena
adanya dua otot adductor ,satu terletak di bagian anterior dan satunya lagi
terdapat di bagian posterior.
D.
Klasifikasi
Kingdom : Hewan
Filum : Moluska
Subfilum : Invertebrat
Kelas : Bivalvia
Order : Veneroida
Superkeluarga : Cardioidea
Keluarga : Cardiidae
Spisies : Anadara sp
E.
Kandungan Cangkang Kerang
Cangkang
kerang mengandung kalsium karbonat (CaCO3) dalam kadar yang lebih tinggi
bila dibandingkan dengan batu gamping, cangkang telur, keramik, atau bahan
lainnya. Hal ini terlihat dari tingkat kekerasan cangkang kerang. Semakin keras
cangkang, maka semakin tinggi kandungan kalsium karbonat (CaCO3) nya.
Maka jika direaksikan dengan asam kuat seperti HCl dan ion logam yang terlarut
dalam air dapat mengendapkan kandungan logam.

cangkang
kerang mutiara
F.
Mamfaat Kerang Mutiara
Kerang Mutiara memiliki manfaat selain untuk
perhiasan, juga dapat digunakan sebagai bahan dasar kosmetik. Pembudidayaan
mutiara dianggap sangat perlu karena meningkatnya permintaan pasar terhadap
mutiara alami, yang mengakibatkan persediaan mutiara di alam semakin terbatas
dan untuk mendapatkan jenis mutiara yang sesuai dengan selera pasar juga
semakin sulit. Kondisi ini mendorong manusia menganggap perlu mengembangkan
budidaya kerang mutiara untuk mendapatkan kualitas mutiara yang terbaik. Pusat
Pembudidayaan dan Perdagangan Mutiara Internasional berada di Pulau Lombok,
Nusa Tenggara Barat.
Mutiara adalah suatu benda keras yang diproduksi
di dalam jaringan lunak (khususnya
mantel) dari moluska
hidup. Sama seperti cangkang-nya, mutiara terdiri
dari kalsium karbonat
dalam bentuk kristal
yang telah disimpan dalam lapisan-lapisan konsentris. Mutiara yang ideal adalah
yang berbentuk sempurna bulat dan halus, tetapi ada juga berbagai macam bentuk
lain. Mutiara alami berkualitas terbaik telah sangat dihargai sebagai batu
permata dan objek keindahan selama berabad-abad, dan oleh karena
itu, kata "mutiara" telah menjadi metafora untuk sesuatu yang sangat
langka, baik, mengagumkan, dan berharga.
Mutiara berharga terdapat di alam liar, tapi
dalam kuantitas yang sangat jarang. Mutiara budidaya atau mutiara yang berasal
dari tiram
merupakan mayoritas dari mutiara-mutiara yang dijual di pasaran. Mutiara laut
dihargai lebih tinggi dari mutiara air
tawar. Yang banyak dijual dengan harga murah adalah mutiara imitasi,
tapi kualitasnya biasanya jelek. Secara umum, mutiara imitasi dapat dengan
mudah dibedakan dari mutiara asli. Mutiara banyak dibudidaya untuk digunakan
sebagai perhiasan.
Namun di masa lalu, mutiara juga digunakan sebagai hiasan pada pakaian-pakaian
mewah. Mutiara juga bisa dihancurkan dan digunakan dalam kosmetik,
obat-obatan,
atau dalam formula cat.
Mutiara yang dianggap berkualitas hampir
selalu berwarna-warni dan menyerupai mother of pearl, seperti interior kulit
yang memproduksi mereka. Namun, hampir semua jenis moluska bercangkang mampu
menghasilkan mutiara yang sedikit kurang bersinar atau berbentuk kurang bulat
seperti bola. Meskipun mereka mungkin juga sah disebut sebagai
"mutiara" oleh laboratorium gemologi
dan juga di bawah aturan US Federal Trade
Commission dan terbentuk dengan cara yang sama, kebanyakan dari
mereka tidak bernilai, kecuali sebagai barang antik.
Hampir semua moluska bercangkang bisa
menghasilkan beberapa jenis mutiara, melalui proses alami, ketika suatu obyek
mikroskopis terperangkap di dalam mantel lipatan moluska, tetapi sebagian besar
dari mutiara tidak dihargai sebagai batu permata.
Sebuah mutiara alami terbentuk tanpa
intervensi manusia
sama sekali, di alam liar, dan sangat jarang terjadi. Kira-kira ratusan kerang
mutiara harus dikumpulkan dan dibuka, dan dengan demikian dibunuh, hanya untuk
menemukan satu mutiara liar, dan selama berabad-abad itulah satu-satunya cara
untuk memperoleh mutiara. Ini adalah alasan utama mengapa mutiara termasuk
sangat berharga di masa lalu. Mutiara budidaya, di sisi lain, merupakan salah
jenis mutiara yang dibentuk dengan melibatkan manusia, di sebuah peternakan
mutiara.
Kerang Mutiara akan merasa terganggu bila
ada pasir, kerikil, atau organisme parasit berbahaya yang masuk ke dalamnya.
Dalam situasi tersebut, kerang akan berusaha melindungi diri dengan dengan
mengisolasi tamu yang tak diundang tersebut, dan mulai melapisinya dengan kulit
mutiara. Proses pelapisan inilah yang menjadi tahap pertama dalam pembentukan
mutiara. Mutiara dihasilkan oleh kerang sebagai efek dari sistem perlindungan,
dan dapat menjadi perhiasan yang indah bagi manusia.
Dalam Al-Qur’an disebutkan
“Dan Dialah Allah
yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging
yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu
pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari
(keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (QS. An Nahl : 14)
Jenis kerang mutiara yang banyak ditemukan
di Indonesia antara lain kerang mutiara jenis Pinctada maxima, dimana jenis ini
dikenal mampu menghasilkan mutiara yang berukuran cukup besar dikelasnya.
Lingkungan perairan tropis Indonesia sangat
mendukung kehidupan kerang mutiara sehingga pertumbuhannya dapat berlangsung
sepanjang tahun. Kerang mutiara biasanya hidup di daerah terumbu karang atau substrat yang
berpasir, dan pola penyebaran kerang mutiara biasanya terdapat pada daerah yang
beriklim hangat di daerah tropis dan subtropis. Pertumbuhan kerang di daerah
subtropis berlangsung di musim panas (summer) sedangkan di musim dingin
(winter) pertumbuhannya berlangsung lambat atau terkadang tidak mengalami pertumbuhan
sama sekali.
Hal inilah yang menyebabkan waktu
pertumbuhan kerang mutiara di Indonesia (daerah tropis) cenderung 4,6 kali
lebih cepat dibandingkan dengan kerang mutiara Jepang (daerah subtropis).
G.
Fakto-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan kerang mutiara
Pertumbuhan kerang mutiara sangatlah
dipengaruhi oleh faktor-faktor alam sebagai parameternya antara lain biologis, fisika dan kimia. Beberapa
faktor itu adalah
1.
suhu perairan,
2.
salinitas,
3.
suplai
makanan yang tidak cukup dan
4.
persentase unsur kimia di laut.
5.
Suhu
menjadi faktor yang mampu mempengaruhi pertumbuhan kerang mutiara,
karena pada musim panas, saat suhu naik, kerang mutiara dapat tumbuh secara
maksimal. Namun saat suhu dan salinitas sepanjang tahun
stabil dengan lingkungan yang ideal, maka pertumbuhannya akan stabil pula.
H. Budidaya kerang mutiara
Sebagaimana namanya,
mutiara hasil budidaya melewati serangkaian proses dengan campur tangan
manusia. Walaupun sebagian besar waktu pembentukan mutiara budidaya berada di
dalam kerang, namun manusia berperan penting dalam meyakinkan bahwa mutiara di
dalam kerang itu terbentuk sesuai keinginannya. Sejak proses penyisipan bahkan
jauh sebelum proses ini berlangsung, untuk meyakinkan bahwa mutiara budidaya
terbentuk dengan baik, kerang-kerang yang layak disisip telah diseleksi dengan
baik. Walaupun pada akhirnya, sampai saat ini, produksi mutiara hasil budidaya
kelas terbaik masih sangat minim dibandingkan dengan kelas di bawahnya.
Alam menyediakan bibit kerang
mutiara budidaya. Bibit kerang mutiara ini dikumpulkan dengan menggunakan
perangkap-perangkap larva (kolektor) yang diletakkan di laut. Material dan
model kolektor ini bervariasi. Material kolektor bisa berasal dari alam seperti
sabut kelapa dan ijuk maupun buatan seperti kain dan plastik. Sementara
modelnya bervariasi dari bentuk sapu sampai ke bentuk panel. Prinsipnya adalah
menyediakan substrat atau tempat untuk menempel bagi larva kerang mutiara yang
bermetamorfosis menjadi spat. Namun demikian, bukan hanya spat kerang mutiara
saja yang menempel di koletor ini, namun bisa saja organisme lainnya. Kolektor-kolektor
ini digantung pada longline atau sarana apung lainnya. Lamanya perendaman
sebenarnya tergantung dari tingkat pertumbuhan spat yang mencapai ukuran yang
bisa dikenal sehingga bisa dibedakan dengan spat kerang jenis lain.
Secara teoritis, perendaman bisa lebih dari 2
bulan tergantung jenis kerang yang akan dibudidayakan. Kolektor kemudian
dibersihkan dari jenis kerang lain dan organisme pengotor lainnya (biofouling)
sehingga memungkinkan spat bertumbuh dengan leluasa. Setelah itu, jenis yang akan
dibudidayakan diambil dengan hati-hati karena kondisi mereka sangat rentan.
Mengingat mereka menempel dengan bysus sehingga pengambilan spat adalah dengan
memotong bysusnya bukan dengan menarik keluar spat itu dengan paksa. Mereka juga rentan terhadap perubahan suhu
dan lamanya mereka terekspos di luar air. Kerang muda ini dipindahkan ke kotak
panel yang memiliki ruang leluasa bagi mereka untuk bertumbuh. Lewat pemahaman
ini, pengetahuan akan sebaran jenis atau spesies kerang mutiara di perairan
sangat dibutuhkan sebelum memutuskan untuk membuat usaha budidaya kerang
mutiara yang membutuhkan suplai bibit dari alam.
Seiring dengan meningkatnya
ilmu pengetahuan dan teknologi, kerang mutiara budidaya saat ini mengalami
pergeseran dari mencari bibit di alam ke bibit hasil hatchery. Beberapa negara
mulai mengembangkan program selektive breeding yaitu pada prinsipnya menyeleksi
kerang yang memiliki karakter bagus untuk dijadikan induk. Karakter bagus dalam
hal ini dititik beratkan pada melihat pertumbuhan kerang dibandingkan kerang
seusianya, morfologi dari cangkang dan warna nacre (MoP) kerang. Mengingat tujuan kebanyakan budidaya komersial
dari kerang mutiara adalah memproduksi mutiara bulat, sehingga bentuk morfologi
sepasang cangkang yang menciptakan ruang yang besar dan leluasa pada bagian
internalnya, menjadi salah satu pertimbangan untuk memproduksi anakan kerang
host (kerang yang akan disisipkan inti mutiara). Sementara kerang yang memiliki
warna dan kondisi MoP terbaik dijadikan sebagai induk untuk memproduksi saibo,
mengingat saibo sangat menentukan kualitas mutiara yang dihasilkan.
Dalam proses perbanyakan dengan sistem hatchery. Induk kerang
mutiara biasanya diseleksi apabila kondisinya sudah mencapai matang gonad.
Caranya adalah dengan membuka cangkang dengan shell opener dan memeriksa bagian
gonad dengan terlebih dahulu mengibaskan insang yang menutupi areal bagian
dalam kerang.
Gonad biasanya langsung terlihat pada kerang
matang gonad saat insang dikibaskan karena bagian gonad ini memakan tempat yang
cukup besar dengan warnah cerah mencolok. Untuk kerang betina biasanya warna
gonadnya adalah krim cerah sedangkan jantan adalah putih. Untuk membedakan
gonad kedua kelamin kerang memang diperlukan latihan yang berulang-ulang
mengingat kadangkala warna gonad jantan terlihat menyerupai warna betina, atau
sebaliknya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Adapun dalam penulisan
makalah ini tentang Kerang Mutiara dapat penulis simpulkan :
Dalam
pengertian paling luas, kerang berarti semua moluska dengan sepasang
cangkang. Dengan pengertian ini, lebih
tepat orang menyebutnya kerang-kerangan dan sepadan dengan arti clam yang
dipakai di Amerika. Semua kerang-kerangan memiliki sepasang cangkang (disebut
juga cangkok atau katup). Makanan kerang
adalah plankton, dengan cara menyaring. Kerang sendiri merupakan mangsa bagi
cumi-cumi dan hiu. Cangkang kerang mengandung kalsium karbonat (CaCO3) dalam
kadar yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan batu gamping, cangkang telur,
keramik, atau bahan lainnya.
Kerang Mutiara memiliki manfaat selain untuk
perhiasan, juga dapat digunakan sebagai bahan dasar kosmetik, Jenis kerang
mutiara yang banyak ditemukan di Indonesia adalah jenis Pinctada maxima. Sebuah
mutiara alami terbentuk tanpa intervensi manusia
sama sekali, di alam liar, dan sangat jarang terjadi. Kira-kira ratusan kerang
mutiara harus dikumpulkan dan dibuka, dan dengan demikian dibunuh, hanya untuk
menemukan satu mutiara liar, dan selama berabad-abad itulah satu-satunya cara
untuk memperoleh mutiara. sepanjang tahun. Kerang mutiara biasanya hidup di
daerah terumbu karang atau substrat yang
berpasir, dan pola penyebaran kerang mutiara biasanya terdapat pada daerah yang
beriklim hangat di daerah tropis dan subtropis.
Beberapa faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan Kerang Mutiara adalah suhu perairan, salinitas, suplai makanan yang
cukup dan persentase unsur kimia di laut. Mutiara yang dianggap
berkualitas hampir selalu berwarna-warni dan menyerupai mother of pearl,
seperti interior kulit yang memproduksi mereka. Sebuah mutiara alami terbentuk
tanpa intervensi manusia
sama sekali, di alam liar, dan sangat jarang terjadi.
B.
Saran
Penulis menyadari
bahwa hasil makalah ini yang membahas tentang Kerang Mutiara belum
lengkap dan masih jauh dari pengharapan, Hal ini disebabkan karena keterbatasan
ilmu dan literatur yang penulis miliki pada saat ini. Penulis sangat
mengharapkan kritikan terutama dari pembaca dan teman-teman. Adanya
kritikan yang membangun yang bisa melengkapi makalah ini di masa
mendatang. Hanya kepada Allah Swt. Semua ini diserahkan, semoga selalu
diberikan petunjuk dan ridha-Nya setiap saat kepada kita semua. Amin Yarabbal
Alamin.
DAFTAR
PUSTAKA
Dinamika Laut, Pusat Penelitian Oseanografi,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,
Jakarta 14430, Indonesia
Dwidjosupotro.
1986.Kerang laut. Jakarta : Gramedia
Newell, N.D. (1969). Bivalvia systematic. In:
Moore, R.C. Treatise on Invertebrate Paleontology
Suhardi. 1983.
Kerang Mutiara. Jakarta : UI Press
Suharsini, Arikunto. 1998.. Kerang yang
mengthasilkan Mutiara. Jakarta : Rineka Cipta
Wikipedia. 2009.
Kerang Mutiara ( sAnadara sp).
diakses 27 oktober 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
